www.arifusan.esy.es. Powered by Blogger.

Saturday, 26 September 2026

Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) se-Jawa Timur mendapatkan pembekalan mengenai produksi konten kreatif melalui kegiatan CERDIK Online yang digelar secara virtual melalui Zoom Meeting, Jumat (25/9/2026).

Kegiatan tersebut mengangkat tema “Produksi Konten Kreatif untuk KIM Jawa Timur” dan diikuti oleh perwakilan KIM serta pengelola informasi dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur. Kegiatan menghadirkan Akyari Hananto, CEO Good News From Indonesia, sebagai narasumber utama.


Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Srita Ratnawi Agustin, S.Si., MIP., dalam sambutannya menyampaikan bahwa KIM memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Menurutnya, KIM dapat menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi publik di tingkat desa maupun kelurahan.


Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, penetrasi internet di Jawa Timur mencapai sekitar 83,41 persen. Media sosial menjadi salah satu kanal penting yang digunakan masyarakat untuk mendapatkan informasi, sehingga KIM perlu terus meningkatkan kemampuan dalam mengelola dan menyajikan informasi yang sesuai dengan karakter masyarakat saat ini.


“Teman-teman KIM perlu mulai mengasah kemampuan bagaimana menyampaikan pesan kepada masyarakat yang kekinian,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.


Selain pembekalan produksi konten, kegiatan CERDIK Online juga menjadi bagian dari sosialisasi Jatim Public Relations Award (JPRA) 2026. Untuk pertama kalinya, KIM di Jawa Timur dilibatkan sebagai kelompok peserta tersendiri dalam ajang tersebut.


KIM akan berkompetisi dalam tiga kategori, yaitu media sosial, konten video kreatif, dan media audio visual. Peserta KIM melakukan pendaftaran secara mandiri dengan persyaratan administrasi yang telah ditentukan.


Untuk kategori media sosial, platform yang digunakan adalah Instagram. Peserta diminta menyiapkan presentasi ringkas mengenai tujuan, target, strategi pengelolaan media sosial, serta evaluasi capaian berdasarkan analitik Instagram.


Sementara itu, kategori konten video kreatif menilai karya video yang diunggah melalui platform seperti Instagram Reels, TikTok, dan YouTube dengan durasi maksimal 90 detik. Adapun kategori media audio visual menggunakan platform YouTube dengan karya berbentuk antara lain hard news, feature, dokumenter pendek, dialog, podcast terpilih, maupun konten sinematik.


Periode pendaftaran JPRA 2026 bagi KIM berlangsung pada 21–27 September 2026, sedangkan pengunggahan karya dijadwalkan pada 19–24 Oktober 2026.


Dalam sesi utama, Akyari Hananto membagikan pengalaman mengenai pengelolaan media sosial dan produksi konten digital. Ia menekankan bahwa konten yang baik tidak hanya dilihat dari sisi desain, tetapi juga dari kemampuan konten tersebut untuk menjangkau dan melibatkan masyarakat.


Menurut materi yang disampaikan, terdapat beberapa indikator penting dalam melihat performa sebuah konten, antara lain banyaknya konten dibagikan, jangkauan yang luas, jumlah penayangan, serta interaksi dari masyarakat.


Akyari juga mendorong pengelola media sosial KIM agar membuat konten yang relevan, mudah dipahami, menarik, dan tidak membosankan. Informasi pemerintahan dan kegiatan masyarakat dapat dikemas dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.


Ia juga memperkenalkan konsep micro content, yaitu konten dengan topik yang lebih spesifik sehingga pesan yang disampaikan dapat lebih fokus. Selain itu, konten human interest, cerita masyarakat, infografis, berita singkat, dan carousel dapat menjadi pilihan format dalam menyampaikan informasi.


Menurutnya, konsistensi juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan media sosial. Konten yang dipublikasikan secara teratur dinilai lebih baik daripada mempublikasikan banyak konten sekaligus kemudian tidak melakukan pembaruan dalam waktu lama.


Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan dorongan untuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu dalam proses produksi konten.


AI dapat digunakan untuk membantu menemukan ide, menyusun alternatif judul, mengembangkan konsep, hingga membantu merancang strategi komunikasi. Namun, pemanfaatannya diarahkan sebagai alat bantu kreativitas, bukan menggantikan proses dan keaslian karya KIM.


“Dibantu dengan AI, bukan dibikin AI,” menjadi salah satu penekanan dalam sesi tersebut.


Melalui kegiatan CERDIK Online ini, KIM se-Jawa Timur diharapkan tidak hanya aktif menyampaikan informasi, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas penyajian konten agar lebih komunikatif dan dekat dengan masyarakat.


Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang belajar bersama bagi KIM untuk memperkuat kapasitas digital, meningkatkan kualitas komunikasi publik, serta mempersiapkan karya dalam ajang JPRA 2026.


Berita ini saya dasarkan pada materi/file yang Anda kirim, termasuk paparan tentang CERDIK Online, JPRA 2026, dan materi produksi konten kreatif.

Tuesday, 22 September 2026

 Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) kembali menghadirkan ruang berbagi pengetahuan melalui Leader Talk Series ke-6 yang mengangkat tema “Praktik Terbaik Pemanfaatan AI untuk Kompetensi Pribadi dan Pengembangan Layanan Perpustakaan.”


Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual melalui Zoom pada Selasa, 22 September 2026 tersebut diselenggarakan oleh FPPTI bekerja sama dengan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Webinar diikuti oleh pustakawan dan pengelola perpustakaan perguruan tinggi dari berbagai daerah.



Kegiatan menghadirkan dua narasumber, yakni Orisa Mahardini, S.Sos., M.Hum., Ketua FPPTI Wilayah Banten sekaligus Manajer Perpustakaan Universitas Multimedia Nusantara, serta Dwi Cahyo Prasetyo, S.IP., MA, Ketua FPPTI Wilayah Kalimantan Barat sekaligus Kepala UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Pontianak.


Kegiatan dibuka oleh Ketua Umum FPPTI, Maria Esos, M.Hum., dan dilanjutkan sambutan dari Wakil Rektor I UNUSA, Prof. Dr. Ir. Ahmad Rusdiansyah, M.Eng., CSCP, CLTD, IPU. Dalam sambutannya, Ahmad Rusdiansyah menekankan bahwa perpustakaan di era digital perlu berkembang dari fungsi tradisional menjadi knowledge sharing center atau pusat berbagi pengetahuan.


Menurutnya, perpustakaan memiliki peran penting dalam mengelola pengetahuan yang dimiliki individu agar dapat menjadi pengetahuan organisasi dan kemudian dimanfaatkan secara lebih luas oleh sivitas akademika.


“AI tidak mengurangi relevansi perpustakaan. Justru AI harus menjadi tantangan bagi perpustakaan untuk semakin dicintai oleh masyarakat kampus.”


Dalam pemaparannya, Orisa Mahardini menjelaskan bahwa perkembangan AI tidak seharusnya dipandang hanya dari pertanyaan boleh atau tidak boleh digunakan. Hal yang lebih penting adalah memahami untuk apa AI digunakan, sejauh mana penggunaannya, serta bagaimana penggunaannya dilakukan secara transparan dan bertanggung jawab.


Ia menekankan bahwa AI dapat membantu pustakawan dan mahasiswa dalam melakukan brainstorming, mengeksplorasi konsep, menemukan informasi, membandingkan perspektif, hingga membantu proses penyusunan materi.


Namun, informasi yang dihasilkan AI tetap harus melalui proses evaluasi dan verifikasi. AI tidak selalu menghasilkan informasi yang benar dan dapat mengalami apa yang dikenal sebagai halusinasi, yaitu memberikan informasi atau sumber yang tidak sesuai dengan fakta.


“AI sebagai copilot, pustakawan sebagai navigator,” menjadi salah satu gagasan penting dalam pemaparan tersebut. AI dapat mempercepat proses menemukan dan memahami informasi, tetapi keputusan, penilaian, serta proses berpikir tetap berada pada manusia.


Orisa juga menjelaskan adanya pergeseran dari literasi informasi menuju AI literacy. Pustakawan tidak cukup hanya mengajarkan cara menemukan informasi, tetapi juga perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan menggunakan AI secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.


Beberapa kemampuan yang perlu diperkuat antara lain menentukan kebutuhan informasi, menyusun prompt, mengeksplorasi sumber, mengevaluasi informasi, memverifikasi sumber, melakukan sitasi, serta memahami persoalan privasi, bias, hak cipta, dan integritas akademik.


Dalam praktiknya, perpustakaan juga dapat mengenalkan berbagai perangkat AI yang mendukung penelitian dan penelusuran referensi. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya bergantung pada satu platform AI, tetapi mampu membandingkan dan memverifikasi informasi menggunakan berbagai sumber akademik.


Orisa turut membagikan praktik di lingkungan perguruan tingginya, antara lain integrasi AI dalam perkuliahan, pengembangan program AI literacy, serta pembekalan mahasiswa mengenai penggunaan AI secara etis.


Sementara itu, Dwi Cahyo Prasetyo mengangkat tema “Membangun Ekosistem Perpustakaan yang Manusiawi di Era Kecerdasan Buatan.”


Ia menyoroti perubahan perilaku pengguna informasi akibat perkembangan AI. Mahasiswa kini semakin terbiasa bertanya kepada AI sebelum mencari informasi melalui buku, jurnal, atau sumber informasi lainnya.


Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perpustakaan untuk menunjukkan kembali nilai dan relevansinya.


Menurut Dwi Cahyo, perkembangan AI tidak dapat dihindari. Karena itu, perpustakaan perlu berani melakukan transformasi dan memahami teknologi tersebut agar dapat memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.


Dalam konteks tersebut, pustakawan dituntut tidak sekadar menjadi pengguna AI, tetapi mampu memahami konteks, melakukan penilaian, memverifikasi informasi, serta menjaga aspek kemanusiaan dalam pelayanan perpustakaan.


Salah satu pembahasan utama webinar adalah pentingnya etika dalam pemanfaatan AI. Penggunaan AI perlu memperhatikan beberapa aspek, antara lain transparansi, privasi, integritas akademik, akuntabilitas, hak cipta, dan bias.


Peserta juga diajak memahami bahwa data pribadi dan informasi sensitif tidak boleh dimasukkan secara sembarangan ke dalam sistem AI.


Selain itu, ketika AI digunakan dalam kegiatan akademik, pengguna perlu menyatakan penggunaannya secara transparan sesuai dengan aturan yang berlaku. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi tetap berjalan seiring dengan prinsip kejujuran dan integritas akademik.


Webinar Leader Talk Series ke-6 juga memperkuat gagasan bahwa masa depan perpustakaan tidak hanya berkaitan dengan koleksi buku, tetapi juga dengan bagaimana perpustakaan menjadi pusat pengetahuan dan pembelajaran.


Perpustakaan dapat berperan sebagai penghubung antara pengetahuan, teknologi, sivitas akademika, dan berbagai sumber informasi. Pustakawan menjadi bagian penting dalam membantu pengguna memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara tepat.


Kegiatan yang berlangsung hingga siang hari tersebut diikuti dengan antusias oleh peserta. Dalam penutupan, Sekretaris Jenderal FPPTI Amirul Ulum menyampaikan bahwa perkembangan AI menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perpustakaan untuk memperkuat literasi berbasis AI, literasi digital, dan pengelolaan pengetahuan.


Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antarpustakawan dan perguruan tinggi dalam menghadapi perubahan teknologi.


Melalui Leader Talk Series ke-6, FPPTI dan UNUSA menunjukkan pentingnya peningkatan kompetensi pustakawan agar mampu beradaptasi dengan perkembangan AI tanpa meninggalkan profesionalisme, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan.


Teknologi boleh terus berubah, tetapi kemampuan manusia untuk berpikir kritis, memverifikasi informasi, menjaga etika, dan memberikan layanan yang humanis tetap menjadi bagian penting dari masa depan perpustakaan.