www.arifusan.esy.es. Powered by Blogger.

Thursday, 29 October 2026

 


Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) Bangil menggelar pameran seni rupa dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Kabupaten Pasuruan, pada Rabu (28/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara seni, tradisi pesantren, dan nilai-nilai spiritual Islam.

Pembukaan pameran dihadiri oleh jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangil, keluarga besar Pondok Pesantren Cangaan, perwakilan badan otonom NU, para seniman dan seniwati, serta sejumlah tamu undangan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PCNU Bangil, KH Edi Suprianto, M.M., pengasuh Pondok Pesantren Cangaan, KH Ahmad Huda Kholili, serta jajaran pengurus Lesbumi NU Bangil yang dipimpin Gus Muhammad Najib. Turut hadir perwakilan Ansor, Fatayat NU, MWCNU, PAC Ansor Bangil, dan komunitas Gus Durian Pasuruan.

Dalam sambutannya, Gus Muhammad Najib menjelaskan bahwa pameran tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional 2026 yang diselenggarakan Lesbumi NU Bangil. Sebelumnya, kegiatan juga diisi dengan lokakarya seni rupa menggunakan metode anthotype, yang hasil karyanya turut dipamerkan kepada masyarakat.

Menurutnya, pameran ini diikuti sekitar 22 seniman yang menampilkan karya dengan pendekatan artistik dan pesan spiritual. Para seniman berupaya menuangkan gagasan, kecintaan terhadap pesantren, serta nilai-nilai keislaman melalui karya seni rupa.


Pemilihan Pondok Pesantren Cangaan sebagai lokasi pameran bukan tanpa alasan. Selain dikenal memiliki sejarah panjang dalam perkembangan pendidikan Islam, pesantren tersebut juga mempunyai keterkaitan historis dengan perjalanan ulama-ulama Nusantara.


“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang untuk mengenal lebih dekat sejarah pesantren sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT melalui seni,” demikian inti pesan yang disampaikan Gus Muhammad Najib dalam sambutannya.


Beliau juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada keluarga besar Pondok Pesantren Cangaan yang telah memberikan izin serta dukungan sehingga pameran seni rupa dapat terselenggara di lingkungan pesantren.

Pengasuh Pondok Pesantren Cangaan, KH Ahmad Huda Kholili, menyambut baik penyelenggaraan pameran seni rupa tersebut. Ia mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada keluarga besar pesantren untuk menjadi tuan rumah kegiatan dalam rangka Hari Santri Nasional 2026.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang apresiasi seni, tetapi juga kesempatan untuk memperkenalkan sejarah, tradisi, serta warisan keilmuan pesantren kepada generasi muda.

Dalam sambutannya, KH Ahmad Huda Kholili turut menceritakan berbagai kisah sejarah dan tradisi yang berkembang di Pondok Pesantren Cangaan, termasuk cerita mengenai ulama-ulama yang pernah menimba ilmu di pesantren tersebut. Ia juga menyampaikan sejumlah kisah tentang peninggalan bersejarah yang masih dijaga oleh keluarga pesantren.

Beliau berharap kegiatan pameran dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan pesantren, terutama dalam memperkuat pendidikan karakter, menumbuhkan keikhlasan dalam mengabdi, serta meningkatkan kecintaan terhadap tradisi keilmuan Islam.

Baginya, menjaga pesantren bukan sekadar mempertahankan bangunan fisik, melainkan juga merawat nilai-nilai perjuangan para pendahulu, tradisi keilmuan, dan semangat pengabdian kepada umat.

Sementara itu, Ketua PCNU Bangil, KH Edi Suprianto, M.M., dalam sambutannya menegaskan bahwa pesantren dan Nahdlatul Ulama memiliki hubungan erat yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, NU tumbuh melalui perjuangan para kiai, ulama, dan santri yang mengembangkan pesantren di berbagai wilayah Indonesia.

Beliau menilai penyelenggaraan pameran seni rupa di lingkungan pesantren merupakan langkah positif untuk mendekatkan generasi muda dengan tradisi pesantren, sekaligus mengenalkan kontribusi pesantren dalam perkembangan kebudayaan Islam dan pembentukan karakter bangsa.

KH Edi Suprianto juga mengingatkan bahwa kehidupan pesantren mengajarkan kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan penghormatan kepada guru. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi santri ketika terjun ke tengah masyarakat.

Beliau menepis anggapan bahwa lulusan pesantren hanya memiliki peluang terbatas dalam kehidupan sosial dan profesional. Menurutnya, banyak alumni pesantren yang mampu berkiprah di berbagai bidang, termasuk dunia usaha dan kepemimpinan, berkat ilmu, kedisiplinan, serta keberkahan dari para guru.

Lebih lanjut, ia berharap kegiatan seni budaya seperti pameran ini dapat menumbuhkan rasa bangga sebagai santri, memperkuat kecintaan terhadap pesantren, serta memupuk semangat kebangsaan dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pameran seni rupa dalam rangka Hari Santri Nasional 2026 ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi media untuk menyampaikan pesan keagamaan, merawat ingatan sejarah, serta mempertemukan kreativitas generasi muda dengan tradisi pesantren.

Melalui karya-karya yang dipamerkan, para seniman diajak untuk melihat seni tidak hanya sebagai ekspresi keindahan, tetapi juga sebagai sarana refleksi spiritual dan penguatan kecintaan kepada Allah SWT.

Penyelenggaraan pameran di Pondok Pesantren Cangaan diharapkan dapat memperluas ruang kolaborasi antara seniman, santri, pesantren, dan organisasi Nahdlatul Ulama dalam mengembangkan kebudayaan Islam yang berakar pada tradisi sekaligus terbuka terhadap perkembangan zaman.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa peringatan Hari Santri Nasional bukan hanya momentum mengenang perjuangan para santri, melainkan juga kesempatan untuk meneruskan nilai-nilai keilmuan, pengabdian, kebangsaan, dan kebudayaan yang diwariskan para ulama kepada generasi berikutnya.

Artikel Terkait

Categories:

0 comments :